Penumpang “Mentang-mentang”

Oleh: Adhy Riadhy Arafah[1]

Aksi istri jenderal bintang satu di institusi kepolisian yang menampar petugas keamanan bandara/aviation security (avsec) telah mejadi viral di media massa. Tidak jelas awal mula kejadiannya, namun menurut media massa, hal ini dipicu oleh keengganan istri si jenderal untuk melepaskan jam tangan yang dikenakannya untuk diperiksa oleh alat X-ray milik bandara hingga berujung pada penamparan kepada petugas keamanan bandara. Dan seperti biasanya yang lazim di negeri ini, budaya saling lapor pun mengemuka baik yang ditampar dan maupun yang menampar. “Ending”nya? penulis sangat yakin kasus ini akan diselesaikan secara musyawarah dan selesai secara “damai”. Tidak akan ada proses hukum lebih lanjut.

Bukan Pertama Kali

Kasus penamparan oleh istri sang jenderal kepada petugas bandara bukanlah kasus yang pertama kali terjadi di negeri ini. Di beberapa bandara di negeri ini, kasus kekerasan terhadap petugas bandara banyak terjadi dengan berbagai alasan. Namun umumnya mereka punya ciri yang sama, yaitu mereka “merasa” memiliki kekuasaan untuk bertindak melawan prosedur. Menariknya, belakangan ini apabila kasus mereka menjadi viral di media, alasan ketidakramahan petugas lah yang menjadi kambing hitam.

Di beberapa waktu sebelumnya, beredar luas gambar di media sosial petugas keamanan bandara yang di foto oleh penumpang yang dalam cerita si penumpang petugas keamanan bandara membongkar kardus yang menjadi perhatian petugas setelah melihat isinya melalui pemeriksaan X-ray. Si penumpang mengeluhkan bahwa petugas ketika membongkar kardusnya tidak lagi mengembalikan kemasann kardus dengan rapih seperti sebelumnya, disaat si penumpang mengalami kesulitan dengan banyaknya barang bawaanya termasuk anaknya yang masih kecil. Usut punya usut, yang tidak ada dalam cerita si penumpang, kardus tersebut dibongkar petugas karena ditengarai ada bahan yang berlebihan yang mudah meledak di ketinggian tertentu yang akan digunakan oleh penumpang untuk pesta ulang tahun anakanya di daerah tujuannya.

Sebelumnya, oknum jenderal di institusi militer juga terkena kasus yang sama. Bukan lagi si istri jenderal, tapi si jenderal yang berpakaian sipil enggan melepaskan sabuk celananya saat diminta petugas keamanan untuk melepasnya hingga berujung pada kasus kekerasan yang menimpa petugas keamanan bandara. Ketika kasus ini mencuat di media massa, si oknum jenderal ini berkilah bahwa justru petugas keamanan bandara lah yang salah karena dianggap tidak ramah ketika akan memeriksa. Kasus ini pun berakhir “damai”.

Yang terheboh, menurut penulis, adalah sebuah kasus “pendudukan” bandara oleh petugas pengamanan Satpol PP yang diperintahkan oleh oknum Bupati yang kedapatan ditinggal oleh pesawat yang hendak dinaiki karena terlambat datang ke bandara. Begitu kesalnya, perintah sang Bupati yang menduduki bandara berujung pada tidak beroperasinya bandara selama periode “pendudukan” tersebut.

Begitu banyaknya kasus kekerasan terhadap petugas bandara yang melibatkan oknum petugas maupun oknum pejabat di negeri ini, namun tidak semuanya menjadi viral. Seperti pengeroyokan anggota penegak hukum kepada petugas bandara yang menolak mengosongkan amunisi di senjata yang dibawa saat akan menaiki pesawat, penamparan kepada petugas keamanan bandara karena enggan diperiksa dan masih banyak lagi. Tidak saja kepada petugas keamanan bandara, tapi juga kepada petugas maskapai yang sedang bertugas.

Efek Negatif Psikologis Petugas Bandara

Seperti slogan maskapai “sekarang semua bisa terbang” atau “kami bisa membuat anda terbang”, lahirnya penerbangan berbiaya murah dan meningkatnya ekonomi kelas menengah Indonesia berdampak pada semakin banyaknya orang yang bisa bepergian dengan moda transportasi udara. Hanya sayangnya, kemampuan ini tidak dibarengi dengan peningkatan budaya perilaku pengguna jasa penerbangan.

Transportasi udara adalah transportasi dengan aturan prosedur yang paling ketat di antara moda transportasi lainnya seperti laut maupun darat. Sikap “mentang-mentang”, seperti “mentang-mentang” keluarga yang bekerja di maskapai dan bisa masuk kokpit pesawat seenaknya, “mentang-mentang” petugas penegak hukum, “mentang-mentang” pejabat, dan lainnya, merupakan kebiasaan yang akan berdampak buruk pada keselamatan dan keamanan penerbangan yang apabila dilakukan secara terus menerus. Pembiaran budaya dan kasus ini akan memberikan dampak negatif psikologis kepada petugas bandara dalam hal kepercayaan diri petugas menjalankan tugasnya.

Kasus lolosnya pilot maskapai yang diduga tidak dalam keadaan fit untuk menerbangkan pesawat adalah salah satu buktinya. Terlihat dari rekaman cctv menunjukkan bahwa indikasi pilot tidak dalam keadaan fit pada perilakunya setelah melewati pemeriksaan petugas keamanan bandara. Petugas pada saat itu melakukan pembiaran dan tidak ada indikasi untuk mencegah si pilot untuk menjalankan tugasnya sampai para penumpang lah yang sadar terjadi ketidakberesan pada si pilot ketika berbicara kepada penumpang.

Pembiaran akan memberikan efek sangat luas. Dalam beberapa kali penulis melakukan penerbangan, sering kali penulis mengetahui masih banyaknya penumpang yang mengaktifkan telepon selulernya dan diketahui oleh petugas maskapai tapi para petugas maskapai cenderung mendiamkan sang penumpang. Sekalipun dipahami sebelumnya terdapat kasus dimana petugas maskapai ditampar karena mengingatkan penumpang untuk mematikan perangkat selulernya.

Di beberapa periode, penulis juga pernah menemukan jaket dengan slogan “petugas avsec bukan satpam” yang dikenakan oleh petugas keamanan bandara. Tulisan slogan ini memberikan indikasi ketidakpercayaan diri petugas keamanan bandara dalam menjalankan tugasnya, karena bagi beberapa penumpang yang memiliki sifat “mentang-mentang”, petugas keamanan bandara layaknya adalah satpam seperti di bank yang tugasnya membukakan pintu bagi nasabahnya, tersenyum ramah, menanyakan keperluannya apa atau mungkin lebih, seperti merapihkan barang bawaan penumpang yang telah diperiksa.

Sanksi Dengan Efek Jera

Seringnya kasus ini terulang dan jarangnya kasus seperti ini berujung pada penegakan hukum menjadi persoalan besar di negeri ini. Persoalan yang lahir dari sikap “mentang-mentang” yang pada ujungnya memberikan dampak negatif yang besar bagi keselamatan dan keamanan penerbangan.

Melihat kenyataan tersebut, perlu kiranya diambil langkah efektif yang bersifat non-hukum yang dirasa tidak efektif dalam memberikan sanksi dengan metode “blacklisting”. Metode “blacklisting” akan memberikan efek jera sangat efektif dimana penumpang yang terekam pernah melakukan tindakan membahayakan keselamatan dan keamanan penerbangan akan dilarang melakukan aktifitas menggunakan transportasi udara dari dan/atau ke bandara dimana penumpang pernah membuat ulah. Metode ini sudah dipraktekan oleh salah satu maskapai, penumpang dengan record sebagai unruly passenger dilarang terbang lagi dengan maskapai tersebut.

Sekalipun bisa dilakukan secara bertahap, metode “blacklisting” penulis yakini akan membuahkan perubahan budaya “mentang-mentang” penumpang transportasi udara. Apabila budaya ini masih tetap ada di diri calon penumpang, maka bagi penumpang tersebut pilihannya tentu saja bisa menggunakan moda transportasi lain yang akan memakan waktu lebih lama, dan dengan waktu yang lama tersebut bisa digunakan sambil introspeksi diri.

Salam..!!

[1] Direktur Center for Air and Space Law (CASL)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


*

code