Overbooking Dalam Bisnis Penerbangan

Oleh: Adhy Riadhy Arafah[1]

Kasus yang menimpa seorang Dokter di Amerika Serikat yang hendak bepergian dengan maskapai United Airlines menarik banyak perhatian khlayak dunia utamanya para pengguna jasa penerbangan. Bagaimana tidak, di kasus tersebut sang Dokter yang bernama David Dao harus diseret keluar dari pesawat United Airlines oleh petugas keamanan penerbangan  karena enggan memberikan kursinya kepada anggota crew pesawat tambahan yang hendak terbang dengan maskapai tersebut di jadwal yang sama yang menyebabkan sang Dokter mengalami luka. Dalam keterangan rilis resmi pihak maskapai, pihak maskapai mengatakan bahwa telah terjadi overbooking sehingga menyebabkan jumlah penumpang melebihi jumlah kursi pesawat.

Kasus ini menarik banyak perhatian para pengguna jasa penerbangan, utamanya terkait dengan pertanyaan bagaimana perusahaan maskapai dapat menjual tiket pesawat kepada penumpang melebihi jumalah ketersediaan kursi pesawat? lalu bagaimana hak penumpang yang telah membeli tiket?

 

Apa itu overbooking?

Dalam bisnis penerbangan, banyak faktor penentu diraupnya keuntungan dalam bisnis ini. Dalam semua aspek transportasi seperti darat, laut dan udara, maka bisa dipastikan bahwa transportasi udara adalah transportasi yang sangat rigid baik dalam  hal perhitungan bisnis, pelayanan, standar maupun secara aturan. Banyak hal yang harus menjadi perhatian, salah satunya dalam hal perhitungan bisnis.

Di aktivitas penerbangan, perusahaan maskapai harus bisa menghitung dengan tepat terkait jumlah avtur yang akan dipakai, kapan dan dimana avtur diisi, menu makanan, membeli memnu makanan, jam berapa pesawat harus terbang dengan rute tertentu hingga di ketinggian berapa pesawat harus terbang serta banyak faktor lainnya yang bisa mempengaruhi income yang diperoleh dan cost yang dikeluarkan.

Perusahaan maskapai dalam memberikan pelayanan utamanya dalam pembelian tiket, kerap menawarkan berbagai kemudahan bagi para konsumennya seperti booking tiket dengan fasilitas internet, menghubungkan dengan penerbangan penerbangan aliansinya (code-share) dan berbagai kemudahan-kemudahan lainnya. Berbagai kemudahan yang dinikmati oleh pengguna jasa tentu tidak gratis, artinya ada biaya yang dikeluarkan oleh maskapai untuk memberikan pelayanan tersebut dan tidaklah murah. Tak jarang, pelayanan tersebut juga harus terkoneksi dengan pelayanan dengan perusahaan maskapai lainnya apabila tergabung dalam sebuah aliansi perusahaan penerbangan.

Bisa dibayangkan apabila pengguna jasa perusahaan maskapai membatalkan reservasinya dan menuntut pengembalian biaya?. Bisa dibayangkan berapa kerugian yang harus dialami maskapai manakala uang dikembalikan namun biaya teknologi pelayanan sudah terpakai?.

Beberapa metode untuk mengurangi kerugian biasanya dikenakan kepada pengguna jasa dengan tidak mengembalikan uang pembelian tiket secara utuh atau seratus persen, yaitu dipotong dengan biaya administrasi, tapi tentu saja uang tersebut tidak bisa mengembalikan uang yang seharusnya diterima maskapai manakala mengangkut penumpang tersebut, terlebih apabila perusahaan maskapai telah mempersiapkan segalanya seperti misalnya: Flight plan, slot, catering ,jasa bandara dan sebagainya.

Bagaimanapun juga maskapai harus terbang sesuai dengan jadwalnya, baik pesawat dalam keadaan penuh maupun tidak penuh. Flight plan yang telah diurus dengan susah payah dan telah dipesan harus digunakan, belum lagi untuk mendapatkan slot terbang juga tidak mudah karena bersaing dengan maskapai lainnya, jasa bandara yang perhitungan parkirnya tak kalah mahalnya dan kesemuanya adalah biaya.

Besarnya biaya yang harus dikeluarkan oleh pihak maskapai dan resiko yang menghantuinya menyebabkan metode penjualan tiket melebihi kapasistas kursi menjadi sebuah jawaban. Overbooking atau menjual tiket melebihi kapasitas kursi msakapai sudah jamak dilakukan oleh maskapai-maskapai di seluruh dunia. Dengan melakukan pola seperti ini, pembatalan reservasi tiket tidak akan menyebabkan kerugian yang cukup dalam bagi maskapai, karena pembatalan reservasi sebagian penumpang akan ditutupi oleh kelebihan penumpang. Namun menjadi sebuah pertanyaan, bagaimana apabila tidak ada yang melakukan pembatalan reservasi?

 

Solusi Overbooking

Perusahaan maskapai umumnya telah memiliki kalkulasi jumlah overbooking yang bisa ditolerir berdasarkan perhitungannya. Namun, kalkulasi terkadang luput dari prediksi sehingga pemberian kompensasi adalah sebuah keharusan yang diberikan kepada masakapai manakala hal tersebut terjadi. Beberapa kompensasi yang ditawarkan oleh pihak maskapai umumnya dengan melakukan upgrading kelas penumpang baik dengan jadwal penerbangan yang sama maupun dengan jadwal penerbangan yang berbeda. Atau menawarkan penerbangan dengan maskapai lain, dimana apabila terdapat selisih harga yang meningkat dengan  maskapai lain tersebut, maka menjadi kewajiban maskapai sebelumnya untuk membayar selisihnya. Penawaran dengan maskapai lainnya harus juga memperhatikan banyak hal, misalnya; maskapai tersebut harus paling tidak sekelas dengan maskapai sebelumnya, selisih jadwal yang tidak terlalu jauh dari maskapai sebelumnya, namun di atas semuanya bergantung pada kemauan si penumpang.

Dalam setiap kasus overbooking, umumnya para penumpang akan menolak apabila pihak maskapai menawakan perubahan jadwal penerbangan sebagai kompensasi overbooking. Sehingga, pihak perusahaan maskapai tak jarang menggunakan jasa psikolog untuk melihat kecenderungan penumpang. Overbooking umumnya bisa dideteksi pada saat melakukan check in, para psikolog maskapai akan memantau serta menawarkan kompensasi kepada penumpang yang terlihat tidak terburu-buru, memiliki kecenderungan menikmati perjalanan untuk ditawari kompensasi yang penuh dengan iming-iming dari pihak maskapai.

Bagaimanapun juga hak penumpang haruslah menjadi prioritas perusahaan maskapai. Kasus yang menimpa penumpang United Airlines sebenarnya sangat disayangkan bisa terjadi, mengingat pengenaan overbooking dalam bisnis penerbangan sudah menjadi hal yang jamak terjadi, yang semestinya bisa diselesaikan tanpa harus ada insiden kekerasan untuk penyelesaiannya. Kejadian overbooking bisa juga menimpa siapa saja, termasuk anda yang membaca tulisan ini. Saran saya, pastikan anda telah  melakukan check in paling lambat satu jam sebelum jadwal keberangkatan anda agar anda bisa terhindar dari denied boarding disebabkan overbooking. Salam!

[1] Direktur Pusat Kajian Hukum Udara dan Angkasa/Center for Air and Space Law

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


*

code