BOLEH KAH PILOT TERBANG DALAM KEADAAN MABUK?

Oleh: Adhy Riadhy Arafah[1]

 

Judul tulisan di atas mungkin menggelitik dan tak perlu dipertanyakan, sebab penulis yakin menjawab pertanyaan judul tulisan di atas semua menjawab TIDAK BOLEH. Lalu, bagaimana Pilot yang diduga mabuk bisa masuk hingga cockpit dan akan menerbangkan pesawat?

Insiden dugaan Pilot dalam keadaan mabuk saat akan melakukan penerbangan dengan maskapai Citilink QG800 rute Surabaya – Jakarta (28/12/2016) telah memakan ‘korban’ dengan mundurnya CEO maskapai ini. Belum ada hasil investigasi resmi dari pihak berwenang terkait insiden ini, sekalipun rilis resmi pihak maskapai mengatakan bahwa hasil tes urine terhadap sang Pilot dinyatakan negative terhadap penggunaan alkohol dan bahan-bahan narkotika. Hingga tulisan ini ditulis, berbagai tanggapan miring terhadap sang Pilot menjadi viral di media sosial, setelah beredarnya video sang Pilot melewati security screening yang terlihat dalam keadaan tidak fit dan rekaman suara Pilot ketika membuat pengumuman di pesawat sesaat akan menerbangkan pesawat yang terdengar meracau.

Siapa yang salah?

Setiap kali incident maupun accident terjadi di setiap kecelakaan transportasi, pola pendekatan “siapa yang salah?” sering kali menjadi pola investigasi pertama dan utama. Tak heran untuk transportasi udara, incident maupun accident yang kerap kali terjadi maka sang Pilot lah yang menjadi target “siapa yang salah?” mengingat aktor yang terlihat dalam setiap aktivitas penerbangan adalah Pilot. Pola pendekatan yang mengutakaman “siapa yang salah” dan menomor duakan “apa yang salah?” menyebabkan pola sanksi dan blaming kerap kali mendahului tanpa merujuk hasil investigasi menyeluruh terlebih dahulu.

Dalam kasus Citilink QG800, langkah maskapai untuk membebastugaskan (grounded) sementara sang Pilot dari segala aktivitas menerbangkan pesawat patut diapresiasi untuk menjamin keselamatan. Namun, memberikan sanksi pemecatan setelahnya kepada sang Pilot setelah kasus ini mencuat apalagi setelah hasil tes urine sang Pilot dinyatakan negative dari bahan alkohol dan narkoba tentu menjadi pertanyaan; “bagaimana pola sanksi diberlakukan?”, “apakah sanksi yang diberikan berdasarkan tekanan?”.

Pilot yang menerbangkan pesawat dalam keadaan mabuk ataupun dalam pengaruh obat-obat terlarang jelas melanggar ketentuan keselamatan penerbangan. Namun, blaming atau tuduhan bahwa sang Pilot dalam keadaan mabuk berdasarkan rekaman CCTV saat security screening dan rekaman suara saat di pesawat jelas butuh hasil investigasi mendalam dan menyeluruh. Pemerikasaan kesehatan terhadap Pilot terkait dugaan sakit yang diderita patut dicermati seperti gejala TIA (Transient Ischemic Attack) atau small/mini stroke merujuk pada pola tingkah laku Pilot saat security screening.

Pendekatan Just Culture

Just Culture dalam dunia penerbangan adalah metode pendekatan dalam melakukan investigasi incident maupun accident penerbangan sipil. Metode ini lebih mengedepankan pada penekanan untuk mencari ‘apa yang salah’ daripada mencari ‘siapa yang salah’. Metode ini mengedepankan pola agar semua pihak yang terlibat dalam suatu aktivitas penerbangan untuk tidak takut melaporkan segala hal yang dianggap dapat berpotensi terhadap keselamatan dan keamanan penerbangan. Di dalamnya termasuk pola self-report manakala seorang individu melakukan kelalaian yang apabila tidak segera diatasi atau dilakukan perbbaikan secara terus menerus akan berdampak pada keselamatan dan keamanan penerbangan.

Self-report dibutuhkan pagi semua pihak, termasuk di dalamnya laporan kesehatan dan psikis yang berkala. Tekanan kerja dunia penerbangan yang menuntut ‘kesempurnaan’ terkadang menjadi momok bagi pihak yang bekerja di dunia penerbangan untuk takut memberikan laporan sebenarnya yang apabila tidak dilaporkan akan berdampak pada pola kerja, keselamatan dan keamanan penerbangan.

Kondisi yang fit personel baik fisik dan psikis dalam penerbangan sangat dibutuhkan. Dalam kasus kecelakaan Germanwings Flight 9525 tahun 2015 yang menawaskan 144 penumpang dan 6 kru pesawat, pesawat diketahui dikendalikan oleh co-Pilot Andrea Lubitz yang ketika mengendalikan pesawat diketahui dari laporan Dokter bahwa sang co-Pilot dalam keadaan tidak fit untuk melakukan pekerjaan dimana sang co-Pilot memiliki kecendrungan psikis untuk melakukan bunuh diri.

Saling memberikan laporan atas gejala yang tak biasa yang akan berdampak pada keselamatan dan kemanan penerbangan harus menjadi budaya setiap orang tidak saja pengguna jasa ini tetapi juga personel yang bekerja di dalamnya. Sebuah perubahan budaya besar akan pentingnya keselamatan dan keamanan penerbangan ditunjukkan oleh penumpang Citilink QG800 yang ketika mendengar ketidakberesan dalam pengumuman Pilot. Dalam hal ini, penumpang telah menerapkan prinsip just culture dengan melaoprkan gejala sang Pilot dan menolak untuk diterbangkan. Namun tidak demikian dengan personel yang bekerja di dunia penerbangan. Dalam rekaman CCTV pemeriksaan security screening, tidak ditemukan adanya upaya dari aviation security untuk menahan Pilot untuk tidak melanjutkan pekerjaannya sekalipun menunjukkan gejala yang tidak lazim. Fakta bahwa Pilot tetap bisa masuk ke dalam pesawat dan akan menerbangkan pesawat tentu menjadi harus menjadi perhatian manajemen maskapai utamanya prosedur pre-flight bagi Pilot dan kru pesawat.

Sebagai pemerintah, Surat Peringatan Satu bagi maskapai Citilink oleh Direktorat Jenderal Perhubungan Udara tertanggal 29 Desember 2016 untuk segera melakukan investigasi dan membebastugaskan sementara Pilot yang bersangkutan dari semua aktivitas penerbangan adalah langkah awal yang tepat untuk selanjutnya dikeluarkan keputasan perbaikan yang sesuai berdasarkan hasil investigasi. Kita berharap kedepan, bahwa industri penerbangan nasional akan berkembang pesat tidak saja secara market akan tetapi beriringan dengan berkembangnya tingkat keselamatan dan keamanannya sehingga melahirkan kepercayaan yang besar tidak saja secara di level nasional tetapi juga internasional.

 

[1] Direktur Pusat Kajian Hukum Udara dan Angkasa, Fakultas Hukum Universitas Airlangga

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


*

code