Drama Horor Penerbangan Nasional

Oleh: Adhy Riadhy Arafah

Sejak dinyatakan hilang, pesawat Indonesia Air Asia dengan kode QZ8501 pada tanggal 28 Desember 2014, drama horror penerbangan nasional kita seolah dimulai. Tangis isak keluarga penumpang yang menunggu kabar kepastian kabar dari pihak yang berwenang menjadi berita utama diberbagai media nasional dan internasional. Tak pelak semua pihak yang terkait dalam penerbangan tersebut membuat komentar di media terkait posisi terakhir pesawat sebelum dinyatakan hilang dengan ‘embel-embel’ keterangan bahwa semua sistem dalam penerbangan tersebut sudah berjalan dengan semestinya dan saling memberikan kesan hal tersebut bukanlah kesalahan dari pihak manapun. Media pun tak kalah hebatnya pada saat itu, dengan mengangkat isu kinerja pelayanan navigasi penerbangan Indonesia. Juga pada saat itu diangkat pula profil sang Capt. Pilot dengan latar belakang pengalaman kerjanya menerbangkan pesawat serta jumlah jam terbangnya. Tak lupa status pesawat yang digunakan dengan jumlah jam terbangnya yang berkategori baru dan canggih. Besarnya sorotan media terhadap pihak di atas tersebut membuat para penonton beranggapan mereka-mereka itulah yang harus bertanggungjawab atas hilangnya pesawat Indonesia Air Asia QZ8501.

Tiga hari berselang, jenazah penumpang pesawat Indonesia Air Asia QZ8501 dan serpihan pesawat ditemukan. Semua pihak instansi pemerintah yang berwenang dan berkepentingan terhadap pencaraian pesawat berlomba-lomba membuat konferensi pers bahwa dugaan lokasi pesawat jatuh telah ditemukan, seolah memberikan kesan bahwa instasinya lah yang telah berhasil menemukan jenazah pertama kali. Tak ayal, gaya komunikasi yang ditujukkan instansi-instansi pemerintah tersebut mendapatkan banyak kritikan dari pemerhati komunikasi dan akademisi hingga akhirnya dibuat suatu kesepakatan oleh pemerintah sendiri bahwa dalam hal pencarian jenazah maupun pesawat merupakan domain dari kewenangan BASARNAS termasuk dalam hal memberikan konfirmasi ke media atas nama pemerintah.

Tak berhenti di situ, sekalipun belum ada hasil investigasi terkait kecelakaan Indonesia Air Asia QZ8501 oleh KNKT, Kementerian Perhubungan yang dipimpin langsung oleh Menteri Perhubungan, Ignasius Jonan pun setelah kecelakaan nahas berlangsung melakukan inspeksi mendadak terhadap beberapa perusahaan maskapai di bandara-bandara terkait dengan prosedur persiapan sebelum pesawat terbang. Hasil inspeksi yang penuh drama dan dimuat berbagai media berita nasional mengangkat isu ketidakpatuhan salah satu perusahaan maskapai dalam melakukan persiapan terbang diantaranya briefing langsung atau tatap muka sang Pilot oleh Flight Operation Officer (FOO). Di berbagai media, sang Menteri menebar ancaman sanksi manakala salah satu pihak perusahaan maskapai memberikan penjelasan bahwa prosedur itu tidak ada di maskapainya sekalipun maskapai lain menerapkan, karena menurut alasan petugas itu perusahaan maskapainya mengikuti standar berbagai perusahaan maskapai lain di dunia yang jauh lebih baik dan efektif. Efeknya, ancaman sang Menteri pun mendapatkan balasan ‘surat terbuka’ dari beberapa profesi Pilot. Tak pelak, instansi sang Menteri pun membuat konferensi pers dan jawaban ‘surat terbuka’ tersebut, yang pada akhirnya dikeluarkanlah kebijakan yang mengharuskan semua perusahaan maskapai melakukan briefing tatap muka langsung dengan FOO sebelum melakukan penerbangan. Situasi mencekam, awan kelabu perusahaan maskapai terjadi lagi, perusahaan maskapai menyatakan tunduk terhadap keputusan pemerintah tersebut, walaupun banyak pertanyaan yang lahir ‘Mengapa baru sekarang kebijakan itu lahir? Mengapa perusahaan maskapai sebelum kebijakan ini lahir dipersalahkan dengan alasan maskapai lain melakukan hal tersebut? Bukankah itu kebijakan masing-masing perusahaan maskapai yang bisa jadi berbeda-beda?’. Entahlah….

Ibarat suatu drama sinetron yang berseri dengan episode yang belum mencapai klimaksnya, drama pun berlanjut. Pemerintah mengeluarkan pernyataan mengejutkan yang mengatakan bahwa izin rute Indonesia Air Asia QZ8501 dinyatakan “illegal” suatu yang pernyataan yang mengagetkan dan menggemparkan, terlebih ketika otoritas Singapura menyatakan bahwa rute penerbangan Indonesia Air Asia QZ8501 Surabaya – Singapura telah tercatat resmi. Semua mata berpaling, semua bertanya, ‘ada apa ini?’. Hasil akhirnya seperti yang sudah diduga, lagi-lagi sanksi yang berbicara. Melalui konferensi persnya, Kementerian Perhubungan mengeluarkan rilis pembekuan 61 izin rute penerbangan terhadap lima perusahaan maskapai nasional. Semua terguncang, perusahaan maskapai merugi, penumpang marah-marah di bandara karena tiket yang telah mereka beli akhirnya tidak bisa digunakan karena pesawat tidak bisa terbang ke tujuan., Sekali lagi ini konferensi pers dilakukan, semua media meliput pernyataan dari pihak yang paling berwenang dari negeri ini. Dan seperti biasa, hal ini atas nama perbaikan penyelenggaraan penerbangan nasional yang selamat setelah adanya kecelakaan dan tentu saja drama akan menjadi lebih menarik dengan mencantumkan pihak yang disalahkan yaitu berupa pemberian sanksi kepada terduga ‘oknum-oknum’ tertentu baik dari Kementerian Perhubungan, AirNav, maupun provider Bandara.

Pemberitaan drama horor penerbangan nasional secara terus menerus di media melahirkan ketakutan yang luar biasa bagi sebagian masyarakat yang sering bepergian dengan pesawat terbang, pendapatan agen travel yang menjual tiket pesawat terbang pun turun hingga 40% akibat cancel atau pembatalan bepergian. Apalagi pemerintah melalui konferensi persnya mengatakan bahwa tarif bawah penerbangan akan dinaikkan menjadi 40% dari tarif atasnya, artinya harga tiket pesawat murah akan naik. Alasannya, tarif yang ada sekarang dianggap sebagai alasan lemahnya pengawasan terhadap keselamatan penerbangan oleh pihak maskapai. Lagi-lagi masyarakat disuguhkan pertanyaan adakah kajian mendalam dalam hal ini? Seberapa besar pengaruhnya? Bagaimana hasil evaluasi dan investigasinya?.

Banyak pihak ramai-ramai mencoba menguak misteri ini dan menebak-nebak apakah ada peran serta pemerintah terhadap kekacauan industri penerbangan nasional. Kali ini pun mencuat hasil laporan audit di website International Civil Aviation Organization (ICAO) terkait Universal Safety Oversight Audit Programme (USOAP) Indonesia di tahun 2014, dimana ditemukan fakta bahwa hampir semua sektor terkait keselamatan penerbangan di Indonesia berada di bawah standar keselamatan penerbangan sipil dunia. Audit ini merupakan audit terhadap suatu negara dan pemerintah lah perwakilan negara itu. Tentu pertanyaan pun lahir, apakah hasil audit investigasi yang dikeluarkan oleh pemerintah dengan bumbu-bumbu sanksi akan seusai dengan rekomendasi internasional? Mengingat hasil audit internasional terhadap auditor kita pun menunjukkan hasil yang rendah.

Dalam setiap kecelakaan pesawat di negeri ini selalu menghasilkan drama, masih teringat ketika di tahun 2007, Pemerintah mengeluarkan daftar peringkat keselamatan penerbangan untuk pertama kalinya sebagai respon atas tingginya tingkat kecelakaan pesawat di Indonesia. Hasilnya, tidak ada satu pun perusahaan maskapai nasional masuk dalam kategori I sekalipun itu perusahaan maskapai pemerintah. Dampaknya, dunia internasional langsung bereaksi dengan memasukkan perusahaan maskapai Indonesia ke dalam kategori rendah dan bahkan Uni Eropa memberikan respon dengan melarang perusahaan maskapai Indonesia untuk terbang di langit Uni Eropa.

Kini waktu telah berjalan, tapi tidak untuk mengambil pelajaran dan hikmah terdahulu. Respon yang dimunculkan pemerintah yang selalu menghadirkan drama di setiap kecelakaan pesawat tidak pernah berubah, mengedepankan sanksi, mencari siapa yang salah adalah langkah yang selalu digunakan untuk menyelamatkan wibawa. Bukannya mencari apa yang salah, melakukan audit, penelitian serta evaluasi diri sendiri dan sistem yang ada saat ini secara mendalam lalu kemudian bersama-sama dengan pihak termasuk perusahaan maskapai, ATC maupun Bandara untuk mencari solusi bersama agar lahir kepercayaan dan ketidaktakutan untuk bersuara dalam hal pelaporan insiden, tapi justeru sebaliknya drama horor berupa ‘sanksi’ lebih dikedepankan.

1 Comment on Drama Horor Penerbangan Nasional

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


*

code