Berapa Nilai Kompensasi Penumpang di Kecelakaan Pesawat Air Asia QZ8501?

Oleh: Adhy Riadhy Arafah

Dunia penerbangan nasional maupun internasional berduka sekali lagi terhadap hilangnya pesawat Indonesia Air Asia QZ8501 dengan rute penerbangan Surabaya – Singapura. Penerbangan yang mengangkut 155 penumpang dengan 138 penumpang dewasa, 16 anak-anak dan 1 bayi tak pelak telah membangkitkan peristiwa menyakitkan terkait kecelakaan pesawat sebelumnya yaitu MH17 yang ditembak di atas wilayah Ukraina dan hilangnya MH370 yang diduga hilang di Samudera Hindia setelah diduga sang Pilot melakukan perubahan rute penerbangan yang tidak wajar dalam penerbangannya dari Kuala Lumpur menuju Beijing.

Bagi perusahaan penerbangan Air Asia sendiri secara global, peristiwa ini merupakan peristiwa pertama kalinya dimana jejak rekam keselamatan perusahaan maskapai yang berbasis di Malaysia ini memiliki status ‘bersih’, artinya baru kali ini perusahaan maskapai mengalami kecelakaan fatal atau hilang dalam penerbangan komersialnya yang menelan korban jiwa. Sebagai perusahaan dengan reputasi tingkat keselamatan yang tinggi tentu menjadi pertanyaan apa yang terjadi dengan perusahaan maskapai ini, mengapa pesawat yang digunakan sangat sulit ditemukan ketika peristiwa nahas itu terjadi. Suatu pertanyaan yang akan bisa diketahui manakala pesawat telah ditemukan dan telah diinvestigasi oleh pihak yang berwenang.

Rekam Jejak Perusahaan Maskapai Air Asia di Indonesia

Perusahaan Indonesia Air Asia adalah perusahaan yang dikenal memiliki afiliasi dengan perusahaan Air Asia yang berbasis di Malaysia. Perusahaan yang berdiri di tahun 2001 ini menawarkan konsep baru dalam dunia penerbangan yang dikenal dengan Low Cost Carrier (LCC). Perusahaan yang didirikan oleh pengusaha Malaysia Tony Fernandes ini berkembang pesat hingga “merajai” bisnis penerbangan komersial secara regional dan menduduki tingkat pertama dunia sebagai pesawat yang berkembang dengan pesat dan terbaik versi SkyTrax selama 6 kali di level Low Cost Carrier (LCC). Berkembang pesatnya perusahaan maskapai ini tak lepas dari strategi bisnis perusahaan maskapai ini melihat potensi pasar dan regulasi penerbangan yang longgar dikawasan regional Asia Tenggra untuk berinvestasi khususnya di Indonesia.

Untuk Indonesia sendiri, perusahaan maskapai Air Asia berdiri jauh sebelum perusahaan maskapai Air Asia di Malaysia lahir, yaitu pada tahun 1999 dengan nama PT AWAIR Internasional. Penerbangan ini melayani rute domestik di Indonesia hingga pada akhirnya perusahaan maskapai ini menghentikan operasinya karena ketatanya persaingan bisnis penerbangan di kelas LCC ini. Namun pada tahun 2004, kepemilikan saham perusahaan maskapai ini dibeli oleh Air Asia dan merubah nama maskapainya dari AWAIR manjadi Indonesia Air Asia dan kembali mengudara bersama dengan kompetitor lainnya di kelas LCC.

Tidak saja melakukan ekspansi ke Indonesia dengan mendirikan perusahaan maskapai Indonesia Air Asia, perusahaan maskapai ini juga mendirikan perusahaan sejenis di berbagai negara semisal Air Asia X, Thai Air Asia, Philippines’ Air Asia, Air Asia India dan Air Asia Jepang untuk tujuan domestik di negara-negara tersebut dan juga tujuan internasional. Operasional perusahaan maskapai ini semuanya menggunakan pesawat buatan Airbus dimana jumlah armada pesawat yang dimiliki secara keseluruhan di seluruh dunia berjumlah lebih dari 160 pesawat. Pesatnya perkembangan bisnis perusahaan maskapai Air Asia tak dipungkiri karena tidak lepas dari status perusahaan maskapai dengan tingkat keselamatan yang tinggi. Adapun insiden pertama kali yang menimpa perusahaan maskapai Air Asia terjadi pada tahun 2011 dimana pesawat ini dengan kode AK5218 sempat mengalami masalah dengan rodanya saat mendarat di Bandar Udara Internasional Kuching akibat turunnya hujan. Dalam insiden ini 4 orang mengalami cedera ringan dan dibawa ke rumah sakit umum di Sarawak, Malaysia.

Jumlah Kompensasi Penumpang Di Kecelakaan Penerbangan Komersial

Perlindungan terhadap hak penumpang pesawat sudah menjadi perhatian internasional sejak pesawat digunakan untuk tujuan komersial. Adalah Konvensi Warsawa 1929 yang mengatur terkait kewajiban tanggung jawab perusahaan maskapai terhadap kecelakaan pesawat yang dioperasikan oleh perusahaan maskapai. Konvensi ini menekankan pertanggung jawaban pihak perusahaan maskapai manakala terbukti bahwa terjadinya kecelakaan disebabkan oleh operasional pesawat perusahaan maskapai. Hal lain yang juga diatur adalah mengenai nilai kompensasi terhadap kehilangan bagasi yang dialami penumpang dalam melakukan perjalanan dengan transportasi udara. Dalam Konvensi Warsawa 1929 dikatakan bahwa jumlah ganti rugi yang diperoleh penumpang terhadap suatu kecelakaan pesawat hingga mencapai 125.000 francs dimana untuk bagasi mencapai 250 francs per kilogram.

Protokol Den Haag 1955 menentukan bahwa tanggung jawab perusahaan maskapai terhadap suatu kecelakaan pesawat dapat mencapai 250000 francs dimana untuk ketentuan besaran ganti rugi terhadap bagasi adalah sama dengan ketentuan Konvensi Warsawa 1929. Montreal Agreement 1966 menentukan jumlah ganti perusahaan maskapai terhadap kecelakaan yang terjadi dengan nilai ganti rugi mencapai 75.000 USD. Terakhir Konvensi Montreal 1999 memberikan acuan nilai ganti rugi kepada penumpang mencapai hingga 113.100 SDR kepada penumpang yang mengalami kecelakaan.

Sejak hilangnya pesawat Indonesia Air Asia QZ8501 tanggal 28 Desember, CEO Air Asia Tony Fernandes berkomitemn untuk memberikan ganti rugi sesuai dengan peraturan perundangan nasional Indonesia. Mengacu pada ketentuan pasal 141 UU Penerbangan 1/2009 dan PM 77 tahun 2011, pihak perusahaan maskapai akan bertanggung jawab dan memberikan kompensasi senilai 1,25 Milyar kepada semua penumpang atau ahli waris yang menjadi korban. Nilai kompensasi yang dianggap ‘cukup besar’ tersebut sejatinya perlu menjadi perhatian pemerintah, mengingat nilai kompensasi tersebut dianggap sudah tidak relevan dengan perkembangan hukum internasional maupun tingkat layak hidup warga negara Indonesia maupun warga negara asing yang berada di penerbangan Indonesia Air Asia QZ8501.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


*

code